Minggu, 06 Maret 2011

Pola Pengasuhan Pada Anak

Sekali waktu lalu, saya pernah mengikuti seminar tentang "smart parents smart children" dengan narasumber bunda Neno Warisman. Seminar kali ini mengangkat bagaimana cara pengasuhan orang tua kepada anak dengan cara yang "smart". Anak adalah anugerah yang amat berharga yang dititipkan ALLAH SWT kepada umatnya, tinggal para orangtua yang diserahkan titipan ini bisa menjaga dengan baik atau tidak. Baik dalam artian sesuai dengan kaidah-kaidah islam agar menjadi "prajurit-prajurit" ALLAH SWT kelak di akhirat nanti.


Dewasa ini para wanita indonesia khususnya mulai bergerak maju dalam karir, artinya banyak diantara ibu-ibu di indonesia yang memilih atau memang tidak ada pilihan untuk menjadi seorang karyawati baik dipabrik, kantor, toko, dan lain-lain. Hal ini seharusnya tidak lantas membuat peran dan kodrat seorang Ibu menjadi terlupakan, karena lewat tangan-tangan mulia "sang ibu" harapan dan kualitas masa depan "seorang anak" terbukti. Betapa besar dan berat tanggung jawab mahluk ALLAH SWT yang bernama "Ibu" ini bukan?

Sesungguhnya dalam pola pengasuhan seorang anak itu diperlukan sebuah "komitmen", komitmen antara ibu-ayah dan antara orangtua-anak. Jika salah satu dari pemegang peranan ini melanggar komitmen tersebut, sudah dapat dipastikan "project pengasuhan" akan mengalami 'handycap atau kecacatan" yang akibatnya kegagalan pola pengasuhan. Bagaimana sesungguhnya komitmen itu dibuat? tentu saja dengan persetujuan sesama pemegang komitmen. Misalnya, ayah dan ibu berkomitmen pada saat anak melakukan kesalahan, ibu akan menegur dan memberi tahu letak kesalahan anak supaya tidak diulangi lagi, nah pada saat itu ayah tidak boleh "menyelamatkan" anak dengan cara apapun, karena dengan begitu anak akan melihat bahwa ia bisa mencari perlindungan kepada ayah, begitu pula sebaliknya.

Step-step pengasuhan anak terbagi dalam 3 step :
1. 7 tahun pertama (usia antara 1th - 7th) : Perlakukan anak bak raja
    Pada tahap ini pola pengasuhan seolah-olah orang tua adalah seorang hamba dan anak adalah rajanya,  
    karena memang pada rentang usia ini anak masih belum bisa untuk melayani dirinya sendiri, tapi tidak
    lantas  keberadaan orang tua terinjak-injak karena perlakuan ini loh?
    Banyak contohnya, misal membacakan bacaan edukatif tentang pahlawan-pahlawan agama, rasul-rasul
    ALLAH SWT pada saat santai atau sebelum tidur. Para ahli mengatakan sangat mudah "mendoktrin"
    seorang anak (hal-hal yang baik tentunya) pada saat tidur dangkalnya. Apa itu tidur dangkal? kondisi tidur
    yang belum lelap, kondisi ini sangat optimum bagi para orang tua untuk menanamkan norma-norma
    kebaikan pada anak-anak tercinta.
2. 7 tahun kedua (usia 7th-14th) : Perlakukan anak sepert pembantu
    Tunggu sebentar, anonim kalimat di atas bukan berarti kita mengkaryakan anak-anak kita seperti
     pembantu, tapi pada tahapan usia ini orang tua mulai mendidik anak-anak mereka untuk mengenali
     pekerjaan rumah yang nanti pada waktunya pasti akan mereka lakoni.
     Ajak anak-anak untuk menempatkan sepatu pada tempatnya, mencuci piring setelah makan,
     membersihkan tempat tidur setelah bangun dan lain sebagainya.
3. 7 Tahun ketiga (usia 14th - 21th) : Perlakukan anak seperti duta besar
     Anak di usia ini sudah bisa mengemban pesan orangtua, terutama diusia 16th kondisi sel-sel otak saat itu
     menduplikasi menjadi 200juta milyar sel-sel dan sel-sel otak ini tidak akan menduplikasi lagi. Jadi
     optimalkan lah pengasuhan-pengasuhan yang edukatif dan agamais serta penanaman norma-norma
     kebaikan sampai pada usia ini.

Seringkali respon orangtua berubah saat mengetahui sang anak tidak berprestasi disekolah, karena bagi para orangtua adalah sebuah "prestigue" mendapati anak-anaknya menjadi juara kelas atau bintang teladan. Suatu pengharapan yang wajar memang, tapi sangat berlebihan jika kita memaksa anak kita untuk pintar disegala bidang. Setiap anak dilahirkan dengan kelebihan nya masing-masing dan tidak bisa disama-samakan, sering saya dengar orangtua yang membanding-bandingkan anak-anak mereka..."eh, koq anto pinter banget ya tiap tahun selalu jadi juara gimana belajarnya sih? beda sama anak saya, kok ngga pernah jadi juara kelas."

Andai mereka tahu bahwa ilmuwan asal Jerman Albert Einstein adalah seorang yang mengalami dyslexia dan sangat pemalu juga beliau dianggap pelajar yang lambat pada masa itu, tapi pada akhirnya "einstein" menjadi seorang ilmuwan legendaris bahkan nama belakangnya tersebut "einstein" bersinonim dengan "kecerdasan".

Pada dasarnya semua manusia yang hadir di dunia ini adalah manusia pilihan juga manusia juara.
Bagaimana tidak, coba kita pikirkan bersama pada saat pertemuan antara sel sperma dengan ovum,sebenarnya perjuangan dan pertandingan yang maha hebat sedang terjadi. Berjuta-juta sperma yang notabene calon manusia itu berlomba-lomba memperebutkan "sang ovum" yang hanya berjumlah satu buah, sampai akhirnya hanya terpilih satu diantara jutaan calon-calon manusia. Jadi para orang tua, anak-anak kita sedari mereka berada dikandungan, mereka sudah menjadi juara sesungguhnya, betapa maha dahsyatnya ALLAH SWT.

Mari kita jadikan putra putri kita prajurit-prajurit ALLAH SWT yang selalu bergerak dalam koridor - koridor islam, dengan dorongan dan support yang besar insyaALLAH kita orangtua bisa berlega hati bahwa amanat itu terjaga dengan baik amin YRA... 

0 komentar:

Posting Komentar